Membentuk Karakter, Siapa Yang Bertanggung Jawab

Membentuk Karakter, Siapa Yang Bertanggung Jawab

Pada masa sekarang ini kita banyak disuguhkan perilaku para pelajar yang menyimpang dari norma masyarakat, norma agama, bahkan norma negara. Banyak kita baca dan kita dengar di media massa maupun media elektronik para pelajar yang melakukan tindakan tawuran antar geng, perampokan oleh pelajar, sex bebas, narkoba, bahkan curanmor. Zaman sekarang ini sudah dikatakan edan(jawa), kata pepatah jawa, yen ora ngedan ora keduman, becik-becike wong sih eling lan waspada.

Melihat kenyataan seperti ini semua orang tua dan masyarakat maupun  pemerintah berpendapat bahwa para pelajar sekarang ini sudah tidak memiliki kepribadian, kesopanan, kedisiplinan, dan kejujuran yang baik, namun sudah terbentuk akhlak yang buruk. Para orang tua dan masyarakat lupa bahwa yang dilakukan oleh para pelajar dikarenakan para orang tua mereka atau panutan masyarakat, mereka telah memberikan contoh lewat perilaku mereka yaitu melakukan perampokan uang negara, sex bebas, curanmor dll. Orang tua, masyarakat dan pemerintah hanya melihat dari salah satu sisi, bahwa kenyataan tersebut disebabkan gagalnya proses pendidikan di sekolah.

Orang tua dan masyarakat beranggapan bahwa selama ini sekolah hanya memberikan materi-materi pelajaran untuk menghadapai Ujian Nasional atau Ujian tulis lainnya untuk mencapai nilai akademik yang memuaskan. Nilai akademik dianggap indikator strata sekolah, jika semakin tinggi nilai akademik sekolah maka sekolah tersebut masuk dalam strata/grade high, begitu juga sebaliknya. Pendapat masyarakat di atas ternyata tidak seluruhnya betul. Mendengar opini serta argumentasi yang disampaikan masyarakat mengenai hal tersebut mendekati kebenaran, akhirnya pemerintah justru ikut terseret dengan opini tersebut.

Pemerintahpun mengambil kebijakan untuk memasukan Budi Pekerti kepada setiap mata pelajaran. Bahkan sejak kurikulum 1994 pemerintah memasukan pendidikan karakter untuk setiap mata pelajaran. Kebijakan ini di lakukan untuk menekankan pendidikan karakter di sekolah pada proses pendidikan sehingga harapan kelak akan terbentuk generasi yang berkarakter terpuji. Apa yang dilakukan pemerintah ini menunjukkan bahwa pemerintah semakin tidak paham dengan tugas guru sejati, sudah mulai ada ketidak percayaan kepada guru, dan yang lebih parah lagi hal ini sebenarnya hanya menambah beban administratif guru.

Pemerintah lupa bahwa guru bukan hanya sekedar mengajar namun juga mendidik. Kedua hal ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bagaikan satu mata uang. Pada saat guru sedang mengajar dan mendidik di dalam kelas sebenarnya yang sedang ia ajarkan adalah hidup sang guru itu sendiri. Palmer (1998); mengajar, sebagaimana kegiatan manusiawi lainnya, muncul dari kedalaman diri individu. Palmer (1998); pengajaran yang baik berasal dari identitas dan integritas sang guru.

Dari opini masyarakat dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah membuat guru semakin pada posisi terjepit. Guru selama ini telah mendidik karakter yang baik kepada peserta didiknya. Dalam diri dan jiwa guru tidak ada guru yang membiarkan peserta didiknya akan menjadi sampah masyarakat, memiliki sifat tercela dan tidak berguna.

Bagaimana pendidikan karakter harus di bentuk pada diri peserta didik agar kelak menjadi generasi bangsa yang unggul dan berkarakter?

Masalah tersebut tidak dapat ditumpukan pada satu orang namun bergantung kolaborasi dari guru, orang tua/masyarakat dan pemerintah.

GURU

Pendidikan karakter pada dasarnya bukan memberikan materi ajar atau pelatihan namun pendidikan karakter adalah keteladanan dalam hidup dan kehidupan. Setelah memberikan keteladanan maka karakter tersebut akan menjadi kebiasaan sehingga akan terwujud budaya dalam peradaban masyarakat. Lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat maupun negara adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya harus saling mendukung, memberikan support untuk melaksanakan visi besar menjadikan generasi bangsa yang memiliki karakter terpuji.

Guru sebagai pendidik karakter di sekolah telah melakukan pendidikan karakter melalui keteladanan selama berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Keteladanan guru tersebut ditunjukkan dengan cara berbicara, berpakaian, menghargai orang lain, menerima pendapat orang lain, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, sabar, dll. Karakter tersebut di samping ditunjukkan melalui keteladanan juga diterapkan dalam kehidupan di sekolah dan dalam proses belajar mengajar.

Dalam proses belajar mengajar bahkan guru mempraktikan melalui pembelajaran, bagaimana berdiskusi menghargai pendapat orang lain, bagaimana menghargai kekurangan orang lain, bagaimana berdemokrasi dan masih banyak lagi. Hal-hal tersebut hampir setiap hari dan setiap waktu guru memberikan keteladanan. Bahkan di dalam kehidupan sekolah guru sudah sangat menyadari dan memahami bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan hanya melalui paksaan, penjelasan, aturan-aturan belaka atau reward-reward sesaat, karena hal ini hanya melahirkan pemampatan batas-batas peranan, namun pembentukan karakter harus melalui keteladan, pembiasaan, praktik dalam kehidupan masyarakat kecil atau sekolah. Dengan hal begini maka dalam kehidupan masyarakat sekolah akan terbentuk budaya yang berkarakter.

Kenyataan yang terjadi di masyarakat apa yang telah dilakukan oleh guru di sekolah seakan-akan terpisah dengan apa yang dilakukan orang tua di rumah atau masyarakat yang lebih besar.

Bagaimana seharusnya orang tua melakukannya?

ORANG TUA

Membentuk Karakter, Siapa Yang Bertanggung JawabKeluarga atau orang tua serta saudara adalah lingkungan kecil yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter anak selain di sekolah. Ibu, Ayah, Kakak atau saudara lainnya adalah contoh nyata di hadapan anak-anak yang secara tidak langsung ikut mempengaruhi kepribadiannya. Untuk itu pola kehidupan di rumah haruslah selaras dengan kehidupan di sekolah. Hal ini bukan berarti orang tua di rumah belum menerapkan atau memberikan keteladana kepada anak mengenai karakter yang terpuji.

Namun masih banyak ditemui bahwa justru karakter buruk anak diperoleh dari rumahnya. Jika pembentukan karakter anak di rumah selaras dengan pembentukan karakter di sekolah maka anak akan merasakan bahwa kehidupan di sekolah merupakan bagian dari kehidupan di rumah begitu juga sebaliknya. Sekolah merupakan rumah keduanya begitu juga rumah merupakan sekolah bagi dirinya. Jika pembiasaan seperti ini berlangsung secara kontinu maka kepribadian anak akan terbentuk dengan baik.

Namun tidak sedikit hubungan sekolah dengan rumah terputus. Yang terjadi adalah lingkungan sekolah bukan bagian dari lingkungan rumah, persepsi ini timbul pada diri anak karena merasakan perbedaan yang terjadi pada dua lingkungan tersebut. Suatu misal di rumah anak sering melihat kedua oarng tuanya bertengkar, mengeluarkan kata-kata kotor, sering menghakimi saudaranya, berlaku keras terhadap diri anak, memberikan perintah tanpa penjelasan, tidak pernah meminta pendapat anak bahkan yang lebih parah melihat orang tuanya berlaku menyimpang norma masyarkat, agama, dan negara.

Bukan hanya sekedar itu orang tua tidak pernah ada waktu untuk sekedar menanyakan keadaan anak selama di sekolah, orang tua terlalu sibuk denga pekerjaanya, bagi yang berekonomi high sibuk dengan meetingnya, sedangkan bagi yang berekonomi sulit sibuk bekerja mencari sesuap nasi. Dari keadaan tersebut anak merasa bahwa dirinya seorang diri, tidak ada yang mau peduli, tidak ada yang dapat memberikan keteladanan di rumah, sehingga persepsi anak bahwa keteladanan di sekolah hanya sebatas kehidupan di sekolah sebagai pelajar setelah di luar sekolah terserah dirinya. Akhirnya yang terjadi anak berperilaku menyimpang norma masyarakat, agama, dan negara. Mereka mencari komunitas yang dapat menghargai, menerima dan mengayomi mereka selama di luar sekolah. Mereka memilih komunitas menurut kesenangan mereka tetapi tidak melihat bahwa komunitas yang dipilih adalah komunitas anak-anak yang berkarakter tidak terpuji.

Fenomena para pelajar tersebut membuat orang tua mereka menyalahkan sekolah yang selama ini para orang tua telah menyerahkan anak sepenuhnya kepada sekolah, orang tua beranggapan bahwa sekolah harus bisa mendidik anaknya menjadi baik karena sekolah bisa segalanya. Orang tua tidak mau dijadikan orang yang juga harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, para orang tua sudah sibuk bekerja mencari uang. Sehingga setelah melihat kenyataan tersebut orang tuanya menyalahkan sepenuhnya kepada sekolah. Mendengar opini masyarakat tentang hal itu, pemerintah ikut terseret dengan opini tersebut. Akhirnya mengambil beberapa kebijakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

PEMERINTAH

Fenomena perilaku pelajar di masyarkat yang semakin meresahkan ditambah dengan opini masyarakat yang menyatakan bahwa pendidikan di sekolah gagal, karena sekolah tidak pernah memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Hal tersebut menyeret pemikiran pemerintah pada arus opini masyarakat dengan fakta perilaku para pelajar di masyarkat. Pemerintahpun berpikiran bahwa guru harus bertanggung jawab terhadap hal ini, untuk itu di sekolah harus dibuat kurikulum untuk membentuk karakter peserta didik. Pemerintah berpendapat seperti halnya masyarakat bahwa selama ini sekolah telah mengabaikan pendidikan karakter. Sekolah terlalu fokus pada peningkatan intelektualnya saja.

Sehingga pada kurikulum 2013 ini pemerintah menekankan pembentukan karakter anak dengan menyebut kurikulum 2013 sebagai kurikulum karakter. Pemerintah lupa bahwa tugas guru adalah panggilan jiwa, naluri hati. Guru bukan hanya mengajar materi pelajaran tetapi guru mengajarkan tentang kehidupannya sendiri, mendidik peserta didik dalam berkehidupan. Justru dengan adanya kebijakan pemerintah yang baru tersebut bukan merupakan solusi bagi guru, yang terjadi adalah penambahan beban tugas guru dan guru merasa selama ini hanya dijadikan yang harus bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan generasi bangsa, guru merasa bahwa kebijakan pemerintah tersebut terlalu linear kurang kompleks.

Guru sudah apriori terhadap perubahan kuirkulum yang hampir terjadi setiap tahun atau setiap pergantian menteri pendidikan. Perubahan kurikulum tersebut selama ini penerapan di lapangan mengakibatkan penambahan tugas administratif guru, sehingga waktu guru lebih banyak dihabiskan untuk menyelesaikan tugas administratif sekolah yang merupakan kewajibannya sebagai aparatur negara. Hampir setiap selesai mengajar guru harus menyelesaikan tugas adminstratif, entah menyangkut tugas pokok dan fungsinya maupun tugas administratif di luar tugas pokon dan fungsinya. Sehingga waktu guru sehari-hari hanya habis digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas administratif, sedangkan waktu yang harus digunakan untuk mendidik anak bangsa sudah tidak ada lagi.

Padahal jika pada saat guru tidak ada tugas mengajar, guru dapat mengobservasi peserta didiknya baik melalui bincang-bincang santai atau hanya sekedar ikut nimbrung dalam permainannya. Namun cara berfikir pemerintah terlalu linear bahwa dengan adanya administratif yang baik maka pekerjaan tersebut dinilai baik. Pemikiran inilah yang harus segera direvolusi. Pemerintah harus memiliki pemikiran yang kompleks untuk menyelesaikan persoalan pendidikan. Yang harus dipahami oleh pemerintah bahwa yang menempuh pendidikan di sekolah adalah para manusia dan yang memberikan pendidikan juga manusia.

Bagaimanakah mencari solusi dari persoalan stake holder pendidikan yang memiliki cara pandang yang berbeda tersebut?

SOLUSI

Guru, orang tua dan pemerintah adalah stake holder pendidikan. Tiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan dan harus saling terkait dan mendukung. Jika ketiga komponen memiliki cara pendang yang berbeda terhadap pendidikan anak, maka yang terjadi adalah komponen tersebut bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan tugas masing-masing. Sehingga ketiga komponen memiliki pendapat bahwa mereka bukan satu kesatuan tetapi bebeda-beda dengan tugas, tujuan yang berbeda. Kalau hal ini dibiarkan terus-menerus maka pendidikan di negeri ini akan semakin parah, generasi bangsa ke depan akan menjadi generasi gelandangan yang hanya dapat memalak. Negara ini akan berada pada masa yang lebih edan. Untuk itu tiga solusi alternatif yang dapat saya ajukan adalah :

Kesatu, Guru dan orang tua murid harus memiliki visi dan misi yang sama dalam pendidikan anak. Dalam hal ini sekolah secara kontinu dan periodik mengadakan pertemuan dengan orang tua murid untuk membicarakan pendidikan dan perkembangan anak. Pertemuan sekolah dan orang tua murid dapat berupa menyampaikan perkembangan anak, seminar/parenting pendidikan anak, atau konsultasi permasalahan anak.

Kedua, orang tua murid harus terlibat aktif dalam pertemuan dengan sekolah dengan selalu hadir, mengikuti dan melaksanakan hal-hal yang didapat dari pertemuan di sekolah. Jika ada permasalahan menyangkut perkembangan anak, orang tua murid segera berkonsultasi dengan guru untuk bersama-sama mencari solusi dari permasalahan tersebut. Solusi yang di dapat oleh orang tua murid dan guru dapat dilaksanakan secara bersama-sama baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Ketiga ,  Untuk menyelesaikan masalah karakter generasi bangsa pemerintah seharusnya berpikir kompleks bukan linear yang hanya melihat persoalan pada satu sisi. Sebenarnya pemerintah menyadari bahwa masalah karakter bukan hanya masalah guru namun juga masalah masyarakat. Tetapi pemerintah belum melakukan kebijakan yang bekaitan dengan masyarakat. Hingga saat ini pemerintah hanya berorientasi pada kebijakan yang berhubungan dengan sekolah. Seharusnya pemerintah juga memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membentuk generasi bangsa. Edukasi tersebut dapat dilakukan mulai dari tingkat propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa sampai dengan tingkat RW/RT. Edukasi tersebut dapat berupa penyuluhan, sebagaimana pernah dilakukan pada zaman Pak Soeharto untuk menyukseskan gerakan KB (Keluarga Berencana).

Gerakan tersebut dapat diadopsi dengan mengubah menjadi gerakan KB (Karakter Bangsa). Untuk melakukan hal ini pemerintah dapat menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi agar melibatkan mahasiswa untuk terjun di masyarakat. Seperi yang dilakukan di Surabaya ini yaitu dengan melibatkan perguruan tinggi membentuk CSR.  Sedangkan di sekolah-sekolah di samping adanya kebijakan aturan, pemerintah juga harus memberikan dukungan sarana. Misalnya, menyediakan video-video motifasi, cerita orang-orang sukses, cerita-cerita perjuangan dll. Jika hal ini dapat dilakukan insyaallah dalam satu generasi akan terwujud generasi bangsa yang berkarakter baik. Memang harus diakui semua ini membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Sanggupkah negara kita ?

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Versus Sekolah Standar Nasional (SSN)

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Versus Sekolah Standar Nasional (SSN)

Mahkamah Konstitusi telah membatalkan dan menolak penyelenggaraan RSBI karena dianggap bertentang dengan UU Dasar 1945. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang menyiapkan peserta didik berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia dan bertaraf Internasional sehingga diharapkan lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

Dasar hukum pemerintah menyelenggarakan RSBI adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, pasal 50 ayat 3, disebutkan bahwa : Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. Di Indonesia mulai jenjang SD sampai dengan jenjang SMA/SMK terdapat sekolah RSBI.

Setelah tiga tahun sekolah menyelenggarakan RSBI maka pemerintah akan mengevaluasi untuk kesiapan sekolah tersebut menjadi SBI. Namun hingga saat ini setelah berjalan kurang lebih 5 tahun seluruh RSBI di Indonesia belum ada dan belum siap dijadikan SBI sehingga status sekolah tersebut masih berstatus RSBI, sampai kapan status tersebut akan terus di sandang?. Sampai pada akhirnya MK memutuskan untuk menolak penyelenggaraan RSBI oleh pemerintah karena RSBI adalah sekolah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris sedangkan peserta didiknya adalah anak bangsa Indonesia, kelak mereka akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia, RSBI masih melakukan pungutan-pungutan untuk operasional sekolah dan pungutan tersebut tidak sedikit, hal ini bertentangan dengan :

  1. UU Dasar 1945 bahwa pendidikan untuk semua warga negara Indonesia.
  2. Program pemerintah untuk sekolah gratis.
  3. Pendidikan tanpa diskriminasi.

Padahal dengan adanya pungutan-pungutan yang cukup besar di RSBI, maka sekolah tersebut hanya dapat dijangkau oleh warga dengan penghasilan yang besar atau warga kelas menengah ke atas, sedangkan bagi warga yang tidak mampu mereka tidak akan dapat masuk ke sekolah RSBI karena beratnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai sekolah (jawa pos, 9 Jan 2013).

Hal ini membuktikan bahwa pemerintah belum siap dan tidak sanggup untuk menyelenggarakan pendidikan yang bertaraf internasional sebagaimana amanat UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003. Mengapa demikian? kenyataannya bahwa sekolah yang menyelenggarakan RSBI masih dapat melakukan pungutan-pungutan untuk biaya operasional dan pengembangan sekolah, memang pemerintah telah memberikan bantuan yang lebih besar di banding dengan sekolah reguler, namun biaya tersebut belum cukup untuk membiayai sekolah yang bertaraf internasional. Pemerintah dalam hal ini sangat memahami bahwa untuk menuju pendidikan yang bertaraf internasional membutuhkan biaya operasional dan pengembangan yang cukup besar sedangkan anggaran pendidikan yang dialokasikan sangat terbatas. Dari hal tersebut akhirnya yang terjadi di RSBI adalah seperti yang kita saksikan saat ini.

Bagaimanakah mengembangkan pendidikan bertaraf internasional tanpa RSBI?

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Versus Sekolah Standar Nasional (SSN)Pendidikan bertaraf Internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan setelah memenuhi standar nasional pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Satuan pendidikan bertaraf internasional merupakan satuan pendidikan yang telah memenuhi standar nasional pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju (direktorat Mandikdasmen, kementrian pendidikan nasional).

Seharusnya semua sekolah yang ada di Indoensia adalah sekolah yang mengutamakan kualitas proses pendidikannya untuk mencapai pendidikan yang bertaraf internasional. Dan sekolah yang dapat melakukan hal tersebut adalah sekolah yang memenuhi standar minimal layanan pendidikan yang terdiri dari delapan komponen yang disebutkan dalam stndar nasional pendidikan. Namun untuk dapat memenuhi standar minimal layanan pendidikan dibutuhkan support bantuan dana dari pemerintah dalam hal ini pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan diharuskan memberikan bantuan dana sepenuhnya kepada pihak sekolah agar sekolah dapat memenuhi syarat untuk mencapai standar minimal layanan pendidikan. Jika hal tersebut dilakukan setengah-setengah oleh pihak pemerintah maka yang terjadi adalah seperti yang kita saksikan saat ini dimana sekolah yang menuju RSBI akan melakukan penguta-pungutan yang cukup besar.

Tanggung Jawab Pemerintah.

Pendidikan adalah merupakan tanggung jawab pemerintah, karena seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Tanggung jawab pemerintah bukan hanya sekedar sebagai penyelenggara pendidikan namun lebih luas yaitu untuk mengembangkan pendidikan bertaraf internasional. Apa yang harus dilakukan pemerintah agar pendidikan yang bertaraf internasional dapat tercapai:

  1. 1Memberikan support bantuan dana, sarana-prasarana kepada pihak sekolah dalam rangka untuk mengembangkan proses pendidikan yang berkualitas sehingga standar minimal layanan pendidikan dapat terpenuhi dengan baik seperti yang disyaratkan dalam UU No. 19 tahun 2005 tentang standar layanan pendidikan.
  2. Bentuk bantuan tersebut dilakukan secara kontinu dan berkala kepada semua sekolah.
  3. Bentuk bantuan tersebut dalam rangka untuk pemerataan kualitas pendidikan sehingga tidak terjadi penjomplangan kualitas pendidikan antara di perkotaan dengan di pedesaan apalagi dengan daerah terpencil.
  4. Mengembangkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikannya secara kontinu dan menyeluruh di sekolah-sekolah seluruh pelosok tanah air.
  5. Mengembangkan metode pembelajaran secara kontinu dan berkesinambungan di sekolah-sekolah seluruh pelosok tanah air.
  6. Memberikan bantuan penambahan buku-buku referensi penunjang proses pembelajaran bagi guru dan sarana-prasarana lainnya .
  7. Memberikan pendampingan secara intensif dan berkesinambungan kepada sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh pelosok tanah air.
  8. Melakukan evaluasi, pemetaan dan pembinaan kepada sekolah-sekolah di seluruh pelosok tanah air untuk mencapai sekolah yang berkualitas dan bertaraf internasional.

Dari beberapa poin di atas memang sangat berat dan membutuhkan anggaran, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit untuk mencapai tersebut. Beberapa hal yang dapat menjadi kendala bagi pememrintah antara lain:

  1. Pemerintah harus menyediakan anggaran yang sangat besar, sarana-prasarana yang sangat banyak dan memadai karena jumlah seklah di seluruh pelosok tanah air yang begitu banyak.
  2. Setelah disediakan sarana-prasarana di sekolah-sekolah, masih banyak sekolah-sekolah yang belum memanfaatkan sarana-prasana tersebut secara maksimal untuk menunjang proses pembelajaran.
  3. Membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pembiayaan yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikannya. Pemerintah pusat tidak akan mampu melakukan sendiri tanpa bantuan pemerintah daerah, namun yang menjadi kendala adalah tidak semua pemerintah daerah dapat melakukan hal tersebut secara maksimal. Dari sinilah dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam rangka mengmebangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
  4. Pengembangkan metode pembelajaran dapat dilakukan dengan cara mengadakan workshop secara rutin kepada para pendidik, namun kenyataan yang terjadi adalah tidak semua pendidik mau melaukan dan mempraktikan hasil workshopnya di kelas-kelas, hampir sebagian besar dari para pendidik adalah melakukan proses pembelajaran seperti yang dilakukannya saat ini (sebelum workshop). Hasil workshop merupakan pengetahuan dan ilmu buat para pendidik itu sendiri tanpa diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
  5. Dalam rangka pendampingan secara intensif di sekolah-sekolah untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan membutuhkan tenaga pendamping dan anggaran yang sangat banyak. Saat ini pemerintah dan pemerintah daerah hanya memiliki beberapa pengawas sekolah yang menurut perbandingan rasionya tidak memenuhi syarat.

Dari uraian kendala di atas dan beberapa poin untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas pendidikan, maka semuanya dikembalikan kepada pihak pemerintah, mampukah dan maukah pemerintah untuk sesegera mungkin melakukan perubahan pendidikan? Jika mau maka saya yakin pemerintah akan melakukan hal-hal cepat dengan mengalokasikan anggaran pendidikan yang lebih besar lagi, namun jika pemerintah merasa saat ini kurang mampu maka pemerintah akan tetap melakukan perubahan pendidikan menuju peningkatan kualitas pendidikan namun dengan cara alon-alon asal klakon dan yang terjadi adalah pendidikan di Indonesia akan semakin tertinggal ajuh dengan negara-negara tetangga.

Cara Islami Meningkatkan Kecerdasan Anak

Cara Islami Meningkatkan Kecerdasan Anak

Bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan uniq yaitu setiap anak memiliki dan membawa potensi dan kekurangan masing-masing. Dalam masa tumbuh kembang anak, potensi anak dapat dikembangkan dengan optimal bergantung dari pola asuh orang tua di samping dukungan dari lingkungan pendidikannya. Potensi pada diri anak adalah kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Potensi tersebut yang akan membawa anak menjadi sukses. Sukses dan tidaknya seorang individu bergantung perkembangan kecerdasan yang dimiliki, sedangkan kecerdasan individu tidak ditentukan oleh faktor dominan IQ namun ditentukan oleh faktor yang sangat potensial yaitu SQ dan EQ.

IQ yang dimiliki oleh setiap individu selama hidupnya tidak akan pernah mengalami peningkatan yang signifikan namun berbeda dengan SQ dan EQ yang dapat berkembang dengan optimal. Kecerdasan seorang anak dalam hidup adalah kemampuan menyelesaikan dan mencari solusi masalah hidup yang dihadapai serta dapat membaca peluang untuk melakukan terobosan dalam kesempatan sehingga dalam hidupnya akan dapat menghasilkan karya-karya yang dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Hal ini dapat dikembangkan dengan optimal apabila SQ pada diri anak dikembangkan dengan baik sehingga EQ anak akan terbentuk dengan baik pula.

Di dalam ESQ (Ary Ginajar; 2001) disebutkan bahwa EQ ini merupakan kekuatan berfikir alam bawah sadar yang berfungsi sebagai tali kendali atau pendorong. Para ilmuwan mengatakan bahwa “ada keajaiban di dalam pemikiran besar”. Di dalam ESQ (Ary Ginanjar ;2001), menurut Danah Zohar dan Ian Marshall “kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapai persoalan makna atau value yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding yang lain. SQ adalah landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara fektif. Bahkan SQ merupkan kecerdasan tertinggi kita (Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ : Spiritual Intellegence, Bloomsbury, Great Britain).

Bagaimanakah cara meningkatkan kecerdasan anak? Didalam Islam sudah diberikan contoh oleh Rasulullah SAW untuk mengembangkan SQ dan EQ anak sehingga kelak mereka akan menjadi individu yang tangguh, jujur, dapat dipercaya, santun , empati atau biasa disebut dengan akhlak karimah. Sejak anak di dalam kandungan Ibu maka orang tua sudah harus mengenalkan ketauhidan dengan cara membaca ayat-ayat Allah didekat Ibu sehingga dapat didengar oleh sang janin di dalam kandungan. Pada saat kelahiran sang bayi maka harus dikumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri.

Di dalam Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl  (Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid; 2003), Dahlawi mengatakan rahasia dan hikmah mengumandangkan adzan pada bayi : Adzan merupakan bagian dari syi’ar-syi’ar islam, Pemberitahuan tentang agama Muhammad, Mengkhususkan pengumandangan adzan pada bayi yang dilahirkan pada bagian telinganya membuat setan lari, dalam hadits Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda “setipa anak adam itu ketika dilahirkan akan digerakkan oleh setan ketika ia sedang dilahirkan sehingga dia menangis dengan keras akibat gangguan tersebut, kecuali Maryam dan putranya”. Setelah bayi lahir maka sang Ibu harus menyusuinya.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Qashahsh:12 “Dan kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan lain”, dan surat Al-Baqarah : 233 “Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. Melalui riset kesehatan dan psikologi bahwa periode dua tahun pertama merupakan fase yang sangat penting dan menentukan bagi perkembangan anak yang sehat baik dari aspek kesehatan maupun kejiwaan.

Cara Islami Meningkatkan Kecerdasan AnakPembentukan SQ dan EQ pada diri anak Islam sudah memberikan petunjuk sejak bayi lahir, hal ini dimaksudkan agar kelak akan menjadi anak sesuai yang disyariatkan oleh Islam. Begitu juga dengan pemberian susu ASI oleh Ibu kepada anak Islam sudah memberikan petunjuk dan ini merupakan pembentukan EQ yang dianjurkan oleh Islam karena dari hal itu akan terbentuk rasa kasih sayang seorang Ibu kepada anak di samping juga pada diri anak akan terbentuk jiwa yang kuat karena merasa tenang dan nyaman dalam belaian Ibu.

Hal di atas adalah sebagai pondasi pembentukan SQ dan EQ pada diri, karena pada saat masa dua tahun hingga baligh itulah masa yang paling ideal untuk membentuk kecerdasan SQ dan EQ anak sehingga kelak mereka akan menjadi individu yang berakhlak karimah dan cerdas dalam menghadapi hidup.

Di samping hal di atas pembentukan SQ dan EQ anak sudah harus dilakukan sejak dini di dalam Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl  (Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid; 2003) disebutkan hal-hal yang dapat membentuk SQ dan EQ anak yaitu :

  1. Mendikte anak dengan kalimat tauhid,
  2. Menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
  3. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berqorban karena-Nya
  4. Memerintahkan shalat, Mengajari shalat, Memukul anak jika enggan shalat, Mendidik anak agar menghadiri shalat berjama’ah.
  5. Mengajari untuk puasa karena puasa merupakan ibadah ruhani sekaligus jasmani.

Abu dawud meriwayatkan dari Sibrah bin Ma’bad Al-juhani bahwa dia berkata, Rasulullah bersabda”perintahkanlah anak aklian untuk mengerjakan shalat jika sudah sampai usia tujuh tahun, dan apabila telah berusia sepuluh tahun, pukullah ia jika sampai mengabaikannya”. Pada usia sepuluh tahun seorang anak boleh dipukul, menurut Syaikh Waliyullah Dahlawi mengandung dua aspek: Pertama, apabila ia telah dianggap sehat secara kejiwaan. Hal ini terwujud dengan berfungsinya akal.

Tanda berfungsinya akal ini muncul ketika anak berumur sepuluh tahun. Sejak usia tujuh tahun, seorang anak mulai berpindah ke fase berikutnya secara jelas, dan puncaknya adalah pada usia sepuluh tahun. Ketika berusia sepuluh tahun inilah seorang anak secara normal telah berakal dan bisa mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang mendatangkan madharat. Kedua, ketika anak telah mempunyai kematangan mental dan fisik, yaitu ketika anak berusia lima belas tahun pada umumnya. Pada saat usia anak telah mengalami kematangan mental dan jiwanya itulah masa yang tepat untuk menunjukkan kepada anak tentang hal-hal yang tidak diperbolehkan dan yang diperbolehkanb serta hukuman apabila melanggarnya karena pada usia tersbeut anak sudah dikatakan baligh.

Dengan melatih anak berpuasa maka di dalam diri anak akan terbentuk ruhani yang kuat, tidak  mudah goyah dan terpengaruh oleh hal-hal negatif, senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT.

Dalam hal pembentukan EQ anak yaitu dengan mengajarkan bagaimana hidup bermasyarakat. Pembinaan hidup bermasyarakat ini bertujuan agar dia bisa beradaptasi dengan lingkungan kemasyarakatannya, dengan orang-orang yang dewasa atau dengan teman sebayanya, dan juga agar mempunyai peran positif. Demikian juga agar dia terhindar dari sifat memikirkan diri sendiri dan rasa malu yang tidak pada tempatnya, dia akan menerima dan memberi dengan tatakrama, dan juga melakukan interaksisosial. Kegiatan pembinaan kemasyarakatan yang bertujuan mengembangkan dan mengoptimalkan EQ anak dintaranya adalah :

  • Mengajak anak menghadiri majelis kaum dewasa, membawa anak-anak ke majelis kaum dewasa, maka akan terlihat kekurangan dan kebutuhuan-kebutuhannya, dengan demikian orang tua akan bisa membimbingnya ke arah yang lebih sempurna lagi dan memotivasinya untuk berani memberikan jawaban ketika ada lontaran pertanyaan sehingga dia bisa berbicara setelah izin terlebih dahulu, yang tentunya dengan adab dan sopan-santun. Disamping itu kemampuan akalnya akan meningkat dan jiwanya akan terdidik, dia juga akan mengenal pembicaraan orang dewasa sedikit demi sedikit sehingga ia akan siap terjun di tengah-tengah masyarakat. Anak-anak juga akan mendapatkan nasehat dan bimbingan.
  • Menyuruh anak melaksanakan tugas rumah sesuai dengan kemampuannya dan tidak membebani diri anak. Pemberian tanggung jawab tugas rumah ini merupakan salah satu faktor dominan terhadap perkembangan sosial anak. Dia bisa mengenal masalah-masalah kehidupan yang belum diketahui sebelumnya, mempunyai kepercayaan diri yang kuat dalam menghadapi berbagai persoalan, mempunyai kepekaan apa saja yang diperlukan kedua oarang tuanya sebelum mereka menjelaskan. Namun dalam memberikan tugas harus diberi tahu bagaimana cara mengerjakan tugas dengan baik.
  • Membiasakan mengucapakan salam ketika masuk/keluar rumah, bertemu orang dewasa atau teman sebaya.
  • Mengajarakan dengan mengajak anak untuk menjenguk anak sakit dengan harapan anak akan memiliki jiwa kasih sayang, suka menolong dan dapat merasakan kesedihan orang lain.
  • Memberikan nasehat untuk memilih teman yang baik, karena lingkungan sangat berpengaruh dominan terhadap perkembangan kejiwaan anak. Jika lingkungan teman dan tempat bermain anak kurang kondusif untuk perkembangannya maka kelak dewasa anak akan memiliki perkembangan kejiwaan seperti yang dialaminya, namun sebaliknya jika teman dan tempat bermain anak sangat konduisf dan baik untuk perkembangan kejiwaannya maka kelak dewasa anak akan menjadi anak yang baik.
  • Menghadiri acara perayaan yang disyariatkan hal ini dimaksudkan agar anak
  • Bermalam di rumah famili yang shalih agar anak dapat memahami kepribadian familinya di samping itu dapat mengetahui famili-familinya.

Pembentukan kejiwaan anak dalam hal akhlak adalah merupakan salah satu dasar meningkatkan kecerdasan EQ anak . Meningkatakan kecerdasan EQ anak dalam hal akhlak adalah dengan cara mengajarkan adab yang baik kepada anak. Adab tersebut antara lain : adab sopan-santun, adab dengan kedua orang tua (berbicara dan memandang kedua orang tua), Menghormati dan mengagungkan orang tua serta merendahkan diri kepada mereka, bergegas untuk memberikan pelayanan kepada mereka, tidak mengeraskan suara di majelis-majelis mereka, dan bersikap lembut ketika bergaul dengan mereka, semua itu mesti dibiasakan oleh setiap anak, tidak memootng pembicaraan orang tua, menghormati dan menghargai orang lain, Persaudaraan, Bertetangga, Meminta izin jika keluar rumah, berkata jujur (harus dimulai dari orang tua, sehingga dapat dijadikan taulada bagi anaknya).

Rasulullah memberikan perhataian terhadap perkembangan anak agar mempunyai kemampuan menjaga rahasia, karena hal itu akan membawa kebaikan bagi anak itu sendiri untuk sekarang maupun masa yang akan datang, berguna bagi keselamatan keluarga dan keutuhan masyarakat, disamping itu akan menjadi anak yang memiliki kemauan kuat.Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far bahwa dia berkata”Suatu hari Rasulullah pernah memboncengkanku di belakang beliau, lalu beliau menyimpankan rahasia kepadaku yang tidak akan akau katakan kepada seorangpun”.

Yang tidak kalah penting dari pembentuk SQ dan EQ anak adalah pembinaan perasaannya. Apabila perasaan anak dibina secara seimbang maka kelak ia akan menjadi anak yang lurus dalam kehidupannya yang utuh. Kecupan dan kasih sayang kepada anak, kecupan memiliki dampak yang sangat besar dalam menggerakkan perasaan dan kejiwaan anak, menenangkan gelombang amarahnya, akan tumbuh rasa keterikatan yang erat di dalam mengokohkan hubungan  kecintaan antara yang tua dan muda.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari A’isyah bahwa ia berkata”telah datang beberpa orang Badui menghadap Rasulullah dan bertanya”Apakah engkau mengecup anak-anakmu?’beliau menjawab”ya”, mereka kemudian berkata”Tapi, demi Allah kami tidak mengecup anak-anak kami, Rasulullah lalu bersabda”Aku tidak punya daya apa-apa bilamana Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu”. Bermain dan bercanda dengan anak, Memberi hadiah dan bonus kepada anak, Membelai kepala anak, menyambut anak dengan baik, mencari tahu keadaan anak dan menanyakannya adalah beberapa kegiatan yang dapat membina perasaan anak.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain bersama anak-anak sebaya adalah merupakan pembentukan Eq anak yang snagat luar biasa. Imam Ghazalai (dalam kitab AL-Ihya’), mengatakan: setelah selesai belajar, anak seyogyanya bermain dengan permainan yang baik yang bisa menghilangkan kepenatan selama belajar atau mengaji. Namun jangan sampai bermain hingga kelelahan. Melarang anak untuk bermain dan memaksanya untuk terus belajar justru akan mematikan hati, meghilangkan kecerdasan, dan mengeruhkan hidup sehingga harus di cari solusi untuk lepas darinya”.

Jika kita dapat memulai dan melakukan hal-hal yang telah diberikan tuntunan oleh Islam dalam mendidik anak untuk membentuk SQ dan EQ agar dapat berkembang dengan baik dan optimal, maka dalam perkembangan hidupnya anak akan menjadi orang yang tangguh, jujur dan pantang menyerah dalam menghadapi hidup. Karena kecerdasan dalam diri anak sudah terbentuk dan terbina sejak kecil maka anak akan menjadi anak yang cerdas, senantiasa mengingat Allah SWT dalam perjalanan hidupnya dan akan menjadi orang yang dapat hidup bermasyarakat dengan baik serta bermanfaat bagi orang lain. Apakah kita sudah, sedang atau akan melakukannya, semua dikembalikan pada diri kita masing-masing.

Rumah Kedua Itu Sekolah

Rumah Kedua itu Sekolah

Pendidikan adalah proses untuk mengembangkan kemampuan dan potensi diri serta membentuk watak dan peradaban manusia agar menjadi manusia yang bermartabat. Sebagaimana dalam UU SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tempat untuk membentuk watak dan kepribadian anak adalah di sekolah karena di sekolahlah terjadinya proses pendidikan selain di rumah.

Pada dewasa ini di dunia pendidikan belum tampak adanya peningkatan kualitas pendidikan dalam rangka membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya perilaku dan sikap peserta didik di semua jenjang sekolah dari SD hingga SMA yang tidak terpuji, bahkan melanggar baik norma agama maupun norma negara sebagaimana banyak kita temui berita-berita tersebut di media massa maupun media elektronik.

Peristiwa berbagai macam sikap dan perilaku peserta didik tersebut merupakan manifesti dari peserta didik untuk menunjukkan kepada masyarakat dan lingkungan bahwasannya mereka adalah manusia-manusia yang memiliki harga diri dan membutuhkan perhatian dan pemahaman akan dirinya. Karena para peserta didik menganggap bahwa selama ini mereka merasa belum mendapatkan tempat untuk dapat memahami akan dirinya terutama selama proses pendidikan di sekolah. Mereka selama ini merasakan bahwa di sekolah mereka dijadikan anak yang harus menerima semua ilmu pengetahuan yang diajarkan dan wajib untuk bisa memahami dan menguasai. Sedangkan dalam dirinya mengatakan bahwa hal itu sangat menyulitkan karena mereka merasa hanya memiliki potensi tertentu yang belum dapat mereka kembangkan dan belum ada orang yang dapat memahaminya.

Namun kepada siapa mereka harus mengatakan hal ini, kepada siapa mereka harus mengadu atau curhat, kepada siapa mereka harus mengatakan bahwa aku membutuhkan pemahaman akan diriku. Hal-hal seperti ini yang terlupakan oleh elemen pendidikan, memahami anak seutuhnya , memahami bahwa tidak semua anak dilahirkan memiliki potensi dan kemampuan yang sama, memahami bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan potensi yang unik dan berbeda.

Selama ini untuk menyelesaikan persoalan perilaku dan sikap peserta didik para pengambil kebijakan pendidikan terlalu memfokuskan pada pembenahan kurikulum. Seperti yang kita ketahui bersama sudah berkali-kali kurikulum pendidikan kita berganti-ganti bahkan akhir-akhir ini dimasukannya pembentukan karakter ke dalam kurikulum, yang lebih baru lagi akan dikeprasnya mata pelajaran di SD dengan jam belajar yang tetap dan penambahan jam belajar untuk jenjang SMP-SMA.

Rumah Kedua itu SekolahSemua ini dimaksudkan untuk membentuk watak, perilaku, dan sikap peserta didik yang terpuji. Namun hingga saat ini justru yang kita temui, yang kita lihat terhadap sikap dan perilaku peserta didik adalah sikap dan perilaku yang tidak terpuji dan melanggar norma agama maupun norma negara. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembenahan kurikulum tidak berdampak efektif terhadap pembentukan perilaku dan sikap peserta didik, bentuk konkret solusi alternatif yang bagaimanakah yang dapat mengatasi hal tersebut. Pada dasarnya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara sebagaimana UU SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003, pasal 1, ayat 1.

Dalam pasal 1 ayat 4 disebutkan Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Jadi pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi diri peserta didik sedangkan untuk peserta didik pendidikan adalah tempat bagi dirinya untuk mengembangkan potensi diri. Persoalan mengembangkan potensi diri inilah yang belum tersentuh dalam dunia pendidikan. Selama ini di dunia pendidikan lebih banyak mengembangkan kognitif peserta didik. Untuk dapat mengembangkan potensi peserta didik dibutuhkan pemahaman akan diri peserta didik seutuhnya ada yang mengistilahkan dengan potret diri peserta didik.

Di sinilah kebutuhan pendidikan khususnya sekolah bahwa untuk mengembangkan potensi diri peserta didiknya dibutuhkan potret diri peserta didik. Untuk tugas mulia ini yang begitu berat, menyita waktu, dan membutuhkan keahlian khusus maka dunia pendidikan khususnya di sekolah harus menyediakan tenaga ahli yaitu psikolog. Mengapa psikolog, karena psikolog adalah seorang yang memiliki ilmu untuk mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.  Psikolog dapat memahami akan jiwa setiap anak, dapat mengetahui potensi yang dimiliki setiap anak, dan dapat mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan potensinya. Di samping itu psikolog dapat menjadi teman, sahabat, dan tempat curhat yaitu menyampaikan isi hati bagi seorang peserta didik. Di sinilah pentingnya seorang psikolog di sekolah.

Peserta didik juga akan dapat merasakan bahwa di sekolah mereka dapat berekspresi, mengembangkan diri, dan ada tempat untuk memahami dan menghargai dirinya sebagai seorang anak. Jika hal ini dapat diwujudkan oleh dunia pendidikan dengan menyediakan tenaga psikolog di sekolah-sekolah maka di masa yang akan datang kita akan melihat para peserta didik betah di sekolah, mengekspresikan diri di sekolah, memanifestasikan diri di sekolah, dan sekolah akan menjadi rumah keduanya.

Di masa yang akan datang kita akan kangen barangkali dengan berita-berita tentang sikap dan perilaku peserta didik yang tidak terpuji yang tidak dapat kita temukan lagi. Jika keadaan pendidikan kita sudah demikian, maka tujuan pendidikan untuk membentuk generasi bangsa menjadi generasi yang bermartabat, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab akan dengan mudah terwujud.

Ujian Nasional (UN) Pertarungan Dalam Pendidikan

Ujian Nasional (UN) Pertarungan Dalam Pendidikan

Ujian Nasional (UN) merupakan ujian yang harus dilalui oleh peserta didik dan merupakan kewajiban sebelum ke jenjang pendidikan lebih tinggi.UN oleh pemerintah dianggap dapat menggambarkan kualitas pendidikan di negeri ini, namun UN justru membuat malapetaka dunia pendidikan.

Setiap tahun seluruh siswa kelas akhir mulai jenjang SD sampai dengan SMA/SMK di seluruh pelosok negeri tercinta Indonesia akan dihadapkan pada Ujian Akhir yang diistilahkan dengan Ujian Nasional. Ujian Nasional sudah menjadi keharusan bagi siswa kelas akhir agar dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi apabila mereka lulus ujian tersebut, namun menjadi sebaliknya bagaikan  algojo yang akan membunuh dirinya.

Ujian Nasional dalam perspektif pandangan para siswa adalah pertaruhan harga diri, apabila mereka lulus dengan nilai sangat baik maka akan semakin meningkatkan harga dirinya sebagai seorang pelajar yang cerdas, namun apabila mereka tidak lulus karena nilainya masih di bawah rata-rata yang distandarkan oleh pemerintah justru akan menjatuhkan harga diri, mereka akan merasa menjadi seorang pelajar yang tidak berguna di mata masyarakat. Berawal dari pandangan tersebut bahwa mereka harus dapat menjaga dan mempertahankan harga diri, maka berbagai macam cara dilakukan oleh para pelajar agar harga dirinya terjaga melalui pembuktian lulus ujian nasional.

Fenomena ini nampak pada saat pelaksanaan ujian nasional, yaitu mengenai kecurangan-kecurangan yang dilakukan para pelajar pada saat mereka mengerjakan soal ujian nasional. Kecurangan yang mereka lakukan mulai dari yang soft hingga yang hard. Misalnya adanya contekan massal, di ruang kelas para peserta ujian saling bertukar jawaban, adanya pengawas ruang yang sangat toleran dengan memberi kelonggaran untuk contekan ataupun bertukar jawaban.

Yang lebih gila lagi adanya pengawas ruang ujian yang justru memberi jawaban kepada peserta ujian, dan lebih dari gila yaitu adanya pendidik yang memanfaatkanmoment ini dengan memberikan kunci jawaban yang validitasnya mencapai 85-90% sebagaimana pernah diekspose pada media massa dengan tertangkapnya pelajar dan pendidik. Kecurangan-kecurangan di atas merupakan beberapa bagian dari sekian banyaknya kecurangan yang terjadi di lapangan dan nampak di permukaan. Setiap tahun menjelang maupun pada saat pelaksanaan ujian nasional kecurangan-kecurangan tersebut selalu terjadi dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun kecurangan-kecurangan tersebut hingga saat ini belum mampu di atasi oleh pihak pemerintah.

Melihat kenyataan tersebut saat ini pemerintah hanya sebatas melakukan tindakan pencegahan mengurangi kecurangan pada waktu pelaksanaan ujian nasional. Pemecahan masalah yang dilakukan pemerintah hanya bersifat linear tanpa mau melihat secara kompleks dan komprehensif. Seharusnya pemerintah mengevaluasi fungsi ujian nasional dan mengembalikan ke fungsi pokok ujian.

Perlu disadari bahwa fenomena yang terjadi pada saat menjelang ujian nasional maupun pada saat pelaksanaan ujian nasional tersebut menjadi bukti bahwa dunia pendidikan yang penuh dengan pembentukan karakter yang baik, membentuk anak secara holistik, menggali dan mengembangkan potensi, dan tempat mencari ilmu menjadi terpatahkan. Proses akademik dan pembentukan kepribadian selama bertahun-tahun menjadi sia-sia. Semua guru merasakan bahwa yang selama ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab, motivasi yang tinggi agar anak didiknya menjadi anak yang cerdas dan berakhlak baik menjadi tanpa arti. Duni pendidikan sudah diliputi awan gelap, wajah dunia pendidikan sudah suram.

Ujian Nasional (UN) Pertarungan Dalam PendidikanSebagaimana dalam UU SISDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Proses pendidikan di Indonesia ini diharapkan akan membentuk generasi bangsa yang unggul, kompetens, dan berkarakter terpuji. Mahlck and Grisay (1991) menyatakan : “Pendidikan dikatakan berkualitas apabila produk atau hasil dari pendidikan yang diselenggarakan (ilmu pengetahan, keterampilan dan nilai-nilai yang dikuasai siswa) sudah memenuhi standar yang ditetapkan dalam tujuan pendidikan dan hasil tersebut sudah sesuai dengan kondisi masyarakat dan lingkungan serta kebutuhan”.

Dari pendapat di atas dengan jelas disebutkan bahwa pendidikan adalah proses untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang beriman dan berakhlak baik. Apabila hasil dari pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan tujuan tersebut maka pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang berkualitas.

Namun ada hal kontradiksi yang dilakukan oleh pemerintah sebagaimana tersurat di dalam PP. No. 19 Tahun 2005 yang dengan jelas disebutkan tentang standar penilaian, pasal 63 ayat 1 : penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian yang dimaksud digunakan untuk : menilai pencapaian kompetensi peserta didik; bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran.

Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional. Hasil Ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk ; pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Di dalam PP.No.19 Tahun 2005 di atas dengan jelas disebutkan tentang standar penilaian, namun di satu sisi yang berkaitan dengan Ujian Nasional masih terdapat klausul bahwa hasil ujian nasional penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan. Selama ini klausul tersebut yang menjadikan semakin keruh dan suramnya pendidikan di negeri ini, yang membuat jalan terjadinya kejahatan di dunia pendidikan.

Bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut sehingga kejahatan-kejahatan dalam pelaksanaan ujian nasional tidak terjadi?

Beberapa hal yang ingin saya ajukan untuk menegakkan kembali dunia pendidikan sebagai dunia ilmiah, dunia pembentukan kepribadian yang terpuji dan dunia yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan semangat juang yang tinggi?

Pertama, Pemerintah harus mengembalikan fungsi ujian nasional sebagai pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Kedua, pemerintah harus mengembalikan kepercayaan pendidikan kepada penididik maupun satuan pendidikan. Selama ini pemerintah merasa tidak yakin dan tidak percaya dengan pendidik maupun satuan pendidikan, sehingga banyak hal yang merupakan hak dan tupoksi pendidik dan satuan pendidikan diambil alih oleh pemerintah. Contoh kecil, untuk jenjang SMP, SMA/SMK kelulusan peserta didik ditentukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan kriteria kelulusan melalui permendiknas menjelang ujian nasional.

Seharusnya pemerintah belajar dari penilaian pendidikan di jenjang SD, dimana sekolah berhak menentukan sendiri kriteria kelulusan, sehingga pada saat pelaksanaan ujian akhir di SD pelaksanaannya relatif jujur dan tidak terjadi kecurangan-kecurangan seperti yang terjadi di jenjang SMP, SMA/SMK.

Ketiga, pemerintah harus lebih memfokuskan diri pada upaya peningkatan kualitas pendidikan baik itu menyangkut SDM maupun lainnya. Yang terjadi selama ini pemerintah justru disibukan dengan hal-hal kecil, seperti penilaian pendidikan, kurikulum yang harus berganti setiap ganti orde pemerintahan, istilah-istilah dalam pendidikan entah mengenai istilah jenjang, ujian, kurikulum ataupun lainnya.

Dengan demikian maka pemerintah harus instropeksi diri bahwa pendidikan adalah milik masyarakat, pemerintah hanya berkewajiban memberikan dukungan untuk peningkatan kualitas pendidikan sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten. Maukah pemerintah mempercayakan pendidikan kepada pendidik maupun satuan pendidikan, apakah pemerintah rela pendidikan lepas dari kendali politik? Semoga.

Tunjangan Profesi Pendidik Dan Problematikanya

Tunjangan Profesi Pendidik Dan Problematikanya

Sejak tahun 2006 pemerintah telah melaksanakan setifikasi bagi guru dan dosen sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air dimana salah satu syarat yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas pendidiknya melalui sertifikasi profesi, maka akan tercapai pendidikan yang berkualitas. Disamping hal tersebut dengan dilakukannya sertifikasi diharapkan adanya peningkatan kesejahteraan bagi guru, logikanya jika taraf hidup pendidik sesuai dengan standar profesinya maka pendidik akan melaksanakan tugas profesinya denga baik. Jika seorang pendidik telah dinyatakan lulus sertifikasi profesi maka konsekuensinya pemerintah harus memberikan imbalan berupa honorarium seorang profesi sesuai dengan keilmuannya.

Uraian yang diamanatkan oleh undang-undang nomor 14 tahun 2005 yang di dalamnya tertuang tentang sertifikasi sungguh merupakan terobosan dan peningkatan taraf hidup pendidik, bahkan pendidik akan menjadi terjamin kebutuhan hidupnya. Ini sungguh sangat menggembirakan bagi pendidik.

Pada tahun 2006 untuk pertamakalinya pemerintah melakukan sertifikasi bagi pendidik, dan yang diutamakan adalah pendidik dengan masa kerja di atas 20 tahun. Hal tersebut disambut dengan gembira oleh pendidik bahkan dengan sangat serius pendidik yang tercantum sebagai peserta sertifikasi memenuhi semua persyaratan yang diwajibkan. Diakhir tahun 2006 para pendidik tersebut dinyatakan sebagai guru yang bersertifikasi, sehingga tahun 2007 para pendidik tersebut sudah berhak menerima tunjangan profesi pendidik. Hal tersebut di atas terus berlangsung dari tahun ke tahun sampai dengan saat ini yang sudah menginjak tahun ke-7 dan seleksi peserta sertifikasi semakin diperketat oleh pemerintah.

Kegembiraan pendidik semakin jelas setelah dinyatakan sebagai guru yang bersertifikasi karena impian dan harapan seperti yang dinyatakan oleh undang-undang akan segera dinikmati sebagai seorang yang memiliki profesi.

Namun kenyataannya berbanding terbalik dengan untaian kata dalam undang-undang guru dan dosen. Kalimat indah penuh impian di dalam undang-undang hanyalah pemanis kata dan hanya untuk memberikan mimpi-mimpi indah pendidik karena pada kenyataannya tidak seindah yang diharapkan. Tahun-tahun setelah menjadi guru yang bersertifikasi justru tunjangan yang seharusnya diterima tidak kunjung diterima bahkan tidak jelas kapan akan diterimanya. Semua guru yang bersertifikasi hanya mampu menunggu cairnya tunjangan tersebut dari pemerintah. Sehingga banyak kita ketahui baik dari media massa maupun media elektronik bahwa tunjangan guru belum turun selama satu semester. Hal ini terjadi bukan hanya pada tahun pertama sertifikasi namun hingga saat ini yang sudah dilaksanakan selama 7 tahun masalah tersebut masih terus berlangsung bahkan semakin ruwet dan rumit.

Apalagi pada tahun 2012 dengan dilaksanakannya sistem on line DAPODIK, salah satu unsur dapat menerima tunjangan profesi bagi pendidik adalah jam mengajarnya harus linier dengan sertifikasinya. Sistem tersebut telah membuat persoalan baru bagi pendidik. Bagi sekolah negeri maupun swasta mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK, dimana kebutuhan gurunya banyak yang belum memenuhi rasio standar. Sebagai misal pada SMP Negeri A, mata pelajaran X guru yang sudah sertifikasi melebihi kebutuhan karenanya guru mata pelajaran x ada yang tidak dapat memnuhi 24 jam mengajar,  sedangkan mata pelajaran y kekurangan guru sehingga guru mata pelajaran X diberikan jam mengajar y untuk memenuhi 24 jam mengajar. Hal ini di dalam sistem dapodik maka guru tersebut dinaytakan jam mengajarnya tidak linier sehingga tunjangan profesinya tidak dapat cair.

Tunjangan Profesi Pendidik Dan Problematikanya

Pada sekolah swasta karena dibawah naungan Yayasan, maka pihak yayasan akan menentukan penempatan guru berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya berdasarkan hasil pemetaannya. Misal seorang guru SMP yang sudah sertifikasi mata pelajaran A di yayasan X pada tahun pelajaran baru dimutasi ke SD karena guru tersebut dibutuhkan untuk SD. Pada tahun 2012 dengan adanya sistem on line dapodik maka guru tersebut dinyakatan jam mengajarnya tidak linier sehingga tunjangan profesinya tidak dapat cair. Hal-hal di atas adalah salah satu persoalan di dalam sertifikasi, belum persoalan yang lainnya antara lain terlambatnya pencairan, kurangnya jumlah nominal pencairan, berganti-gantinya rekening tabungan setiap tahun, pemberkasan setiap tahun, dlsb.

Persoalan-persolan tersebut secara langsung menyita waktu guru sebagai profesi pendidik karena harus dihadapkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Belum lagi guru harus meninggalkan jam mengajarnya untuk menyelesaikan persoalan pembekasan, membuka rekening baru karena tuntutan waktu yang dideadlinekan pemerintah sangat sempit.

Persoalan-persoalan di atas belum mampu diselesaikan oleh pihak pemerintah dan masih berlanjut hingga sekarang. Bagaimanakah seharusnya meminimalkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hal di atas?

Hal utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah bahwa guru adalah seorang pendidik yang memiliki peranan dominan di dalam pendidikan yang berkaitan langsung dengan peserta didik dalam hal ini adalah manusia generasi bangsa. Jika guru harus dihadapakan pada banyak hal administrasi yang tidak berkaiatan langsung dengan profesinya untuk menunjang kulaitas pendidikan maka yang terjadi justru guru akan semakin larut dengan hal-hal administrasi tersebut sedangkan peningkatan kulitas profesinya akan termarginalkan. Untuk meminimalkan hal tersebut sebaiknya pemerintah memberikan kemudahan dan kelonggaran guru dalam hal adminstrasi untuk kelengkapan data yaitu dengan cara pemberkasan hanya dlakukan satu kali pada saat awal lulus sertifikasi selanjutnya data-data tersebut masih terus berlaku kecuali jika seorang guru mutasi, tidak aktif mengajar atau meninggal dunia melalui surat pernyataan Kepala Sekolah yang bersangkutan.

Pembukaan rekening dilakukan hanya satu kali pada saat awal akan menerima tunjangan sertifikasi untuk pertama kalinya sedangkan pada tahun-tahun berikutnya rekening tersebut masih berlaku kecuali jika ada hal-hal yang berkaitan dengan bank tersebut, suatu misal bank yang bersangkutan dilikuidasi. Begitu juga dengan kontinuitas pencairannya dan nominal pencairannya.

Pada sistem on line dapodik seharusnya tidak ada unsur jam mengajar linier atau tidak linier karena para guru adalah pendidik generasi bangsa dimanapun mereka melaksanakan tugas mengajarnya baik di jenajng SD, SMP, SMA, maupun SMK karena pada dasarnya para guru sudah memiliki kompetensi pedagogik yaitu sebagai lulusan sarjana apalagi dengan ditambah sertifikat pendidiknya. Jika pemerintah mau dan mampu melaksanakan tersebut maka persolan-persoalan yang selama ini terjadi akan terselesaikan dengan baik.

Dibalik hal-hal tersebut di atas mungkin ada hal lain yang tersirat, yaitu pemerintah dengan sengaja mempersulit persolan pencairan tunjangan sertifikasi dikarenakan masalah keuangan negara, pemerintah enggan memberikan gaji pendidik yang berlebihan karena pendidikan masih dianggap nomor dua, pemerintah tidak sepenuhnya mempercayai pendidik jika diberikan tunjangan maka kualitasnya akan ikut meningkat. Jika hal demikian maka selamanya pendidik di indonesia akan menjadi profesi yang termarginalkan dan pendidikan lambat laun akan semakin terpuruk, semoga tidak demikian dan pemerintah akan menjadi pejuang terdepan untuk pendidik dan pendidikan, bagaimana menurut saudara?

Mengenali Anak Berkebutuhan Khusus Sejak Dini

Mengenali Anak Berkebutuhan Khusus Sejak Dini

Anak dilahirkan memiliki potensi yang berbeda, mereka memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda. Setiap anak adalah unik dan semua anak adalah berbeda. Sebagai orang tua kita tidak dapat menyamaratakan atau membandingkan anak satu dengan lainnya, apalagi sebagai seorang guru yang dengan jelas kita dapat melihat ketika anak-anak di dalam kelas bahwa anak-anak kita memiliki karakter, kebiasaan, kecerdasan, dan potensi yang berbeda.

Namun harus kita sadari bahwa setiap anak memiliki keterbatasan atau barangkali keistimewaan baik fisik maupun psikisnya. Keterbatasan anak tersebut kadang yang membuat kita kurang dapat memahami potensi mereka, keinginan kita terlalu berorientasi bahwa anak yang kita harapkan adalah anak yang sempurna baik fisik maupun akademiknya. Sebuah fakta yang berkembang di masyarakat bahwa orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan fisiknya maupun akademik dan psikisnya, maka mereka para orang tua justru malu dengan masyarakat sekitar sehingga banyak di antara orang tua yang justru memberi pengekangan anaknya agar tidak bergaul dengan lingkungannya padahal inilah yang semakin memperparah keadaan anak dan tidak berkembangnya potensi anak.

Sebaliknya para orang tua yang memiliki anak dengan keadaan fisik yang normal, akademik dan psikis yang memuaskan menurut ukuran mereka, maka para orang tua semakin bangga dengan anaknya sehingga mereka memberikan waktu yang cukup banyak untuk mengembangkan potensi anaknya. Disamping itu kadang masih banyak orang tua yang memiliki anak menurut ukuran mereka sempurna secara fisik dan psikis tidak menghendaki anak mereka untuk bergaul dengan anak yang memiliki keterbatasan fisik dan psikis sehingga masih terjadi adanya jurang pemisah diantara anak-anak tersebut, dan hal ini yang semakin membuat pergaulan anak-anak yang memiliki keterbatasan semakin sempit dan terbatas lingkungan pergaulannya.

Hal tersebut di atas berdampak bahwa anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik dan psikis akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat, mereka akan dianggap sebagai anak yang tidak memiliki potensi, skill, dan kecerdasan lainnya. Mereka dianggap sebagai anak yang akan merepotkan masyarakat, anak yang masa depannya suram.

Untuk itu pandangan orang tua dan masyarakat seperti yang diuraikan di atas harus segera di ubah atau dihilangkan, paradigma orang tua atau masyarakat harus segera diarahkan bahwa setiap anak dilahirkan memiliki potensi, kecerdasan, dan bakat yang berbeda. Setiap anak adalah manusia, mereka semua memiliki keterbatasan sebagai hamba Allah SWT.

Apa yang harus dilakukan untuk memecahkan atau memberikan solusi alternatif pada masalah tersebut?

Secara sederhana yang dapat kita lakukan adalah memberikan pemahaman tentang anak berkebutuhan khusus, sehingga orang tua dan masyarakat dapat semakin memahami tentang semua anak. Agar kita semua dapat memahami anak berkebutuhan khusus maka sejak dini kita harus mengenali ciri-ciri anak berkebutuhan khusus tersebut sehingga penanganan anak berkebutuhan khusus dapat dilakukan sejak dini dan pada akhirnya kita dapat mengetahui potensi dan kecerdasannya sehingga dapat dikembangkan lebih optimal.

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik (http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus).

Secara umum kita dapat mengetahui bahwa seorang anak termasuk anak berkebutuhan khusus, apabila kita dapat mengenali ciri-ciri yang nampak secara fisik dari anak tersebut. Anak dikategorikan berkebutuhan khusus akan nampak ciri-ciri secara fisiknya, dan dapat kita kenali anatra lain :

  • Apabila kita menatap mata anak tersebut, maka anak tersebut akan mengalihkan pandangannya dari kontak mata kita.
  • Kontak mata anak tidak fokus dan mudah mengalihkan pandangan.
  • Raut wajah anak nampak datar tanpa ekspresi, tanpa motivasi, dan tanpa keinginan walaupun mereka dalam keadaan sedih, senang, kalah, maupun menang.
  • Secara fisik mereka memiliki fisik yang bagus, namun akan nampak saat kita ajak mereka untuk berdiskusi yaitu anak tersebut kadang tidak memperhatikan atau mendengarkan apa yang akan kita bicarakan, mereka kadang sulit untuk menyampaikan pendapatnya, berbicara dengan cedal, meyampiakan dengan kata-kata yang tidak jelas bahkan dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaannya.
  • Jika anak kita bawa pada suatu lingkungan yang banyak anak seusianya, anak tersebut cenderung tidak mau bergaul dengan mereka namun meilih untuk bermain sendiri, seakan-akan mereka memiliki dunianya sendiri yang tidak mau diganggu oleh orang lain.
  • Anak sering berbicara sendiri, bermain sendiri dan menjauh dari lingkungan pergaulan.
  • Secara fisik dan nampak dengan jelas anak memiliki keterbatasan (cacat)

Uraian di atas adalah ciri-ciri umum yang dapat kita kenali sejak dini, namun bukan berarti kita dapat dengan mudah memberikan label kepada anak dengamn ciri-ciri tersebut di atas sebagai anak berkebutuhan khusus, karena tanpa diagnosa dari ahlinya yaitu pikolog atau psikiater maka belum dapat dikatakan bahwa anak tersebut adalah anak berkebutuhan khusus. Apabila kita mendapati ciri-ciri umum yang tersebut di atas alangkah baiknya jika kita melaklukan antisipasi atau tindakan preventif dengan membawanya ke psikolog atau psikiater sehingga kelak potensi anak tersebut dapat dikembangkan secara optimal.

Lebih lanjut dan mendalam tentang anak bekebutuhan  khusus, beberapa ahli mengkategorikan dengan ciri-ciri tertentu.

Di dalam POS Pendidikan Inklusif Departemen Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) terdiri atas anak yang mengalami hambatan permanen, temporer maupun hambatan dalam perkembangan. Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan sebagai berikut :

Mengenali Anak Berkebutuhan Khusus Sejak Dini

1. Tuna netra/anak yang mengalami gangguan penglihatan

Tuna netra adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • tidak mampu melihat
  • tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
  • kerusakan nyata pada kedua bola mata,
  • sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
  • mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
  • bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
  • peradangan hebat pada kedua bola mata,
  • mata bergoyang terus.

2. Tuna rungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran

Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • tidak mampu mendengar,
  • terlambat perkembangan bahasa
  • sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
  • kurang/tidak tanggap bila diajak bicara
  • ucapan kata tidak jelas
  • kualitas suara aneh/monoton,
  • sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar
  • banyak perhatian terhadap getaran,
  • keluar cairan ‘nanah’ dari kedua teling

3. Tuna daksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan

Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
  • kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
  • terdapat bagian anggauta gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
  • terdapat cacat pada alat gerak,
  • jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
  • kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal
  • hiperaktif/tidak dapat tenang.

4. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa

Anak berbakat adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi), kreativitas, dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal), dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • membaca pada usia lebih muda,
  • membaca lebih cepat dan lebih banyak,
  • memiliki perbendaharaan kata yang luas,
  • mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
  • mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
  • mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
  • menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
  • memberi jawaban-jawaban yang baik,
  • dapat memberikan banyak gagasan
  • luwes dalam berpikir
  • terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
  • mempunyai pengamatan yang tajam,
  • dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati,
  • berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
  • senang mencoba hal-hal baru,
  • mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
  • senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan-pemecahan masalah,
  • cepat menangkap hubungan sebabakibat,
  • berperilaku terarah pada tujuan,
  • mempunyai daya imajinasi yang kuat,
  • mempunyai banyak kegemaran (hobi),
  • mempunyai daya ingat yang kuat,
  • tidak cepat puas dengan prestasinya,
  • peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
  • menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

5. Tuna grahita

Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/ besar,
  • tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
  • perkembangan bicara/bahasa terlambat
  • tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
  • koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
  • sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler)

6. Lamban belajar (slow learner)

Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • rata-rata prestasi belajarnya selalu rendah (kurang dari 6),
  • dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
  • daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
  • pernah tidak naik kelas.

7.  Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik

Anak yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) dengan ciri-ciri sebagai berikut :

a.    Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)

  • perkembangan kemampuan membaca terlambat,
  • kemampuan memahami isi bacaan rendah,
  • kalau membaca sering banyak kesalahan

b.    Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)

  • kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
  • sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dgn 9, dan sebagainya,
  • hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
  • tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
  • sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.

c.    Anak yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)

  • sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  • sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
  • sering salah membilang dengan urut,
  • sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
  • sulit membedakan bangun-bangun geometri.

8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi;

Anak yang mengalami gangguan komunikasi adalah anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • sulit menangkap isi pembicaraan orang lain,
  • tidak lancar dalam berbicaraa/mengemukakan ide,
  •  sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
  • kalau berbicara sering gagap/gugup,
  • suaranya parau/aneh,
  • tidak fasih mengucapkan kata-kata tertentu/celat/cadel,
  • organ bicaranya tidak normal/sumbing.

9. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.

Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • bersikap membangkang,
  • mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah
  • sering melakukan tindakan aggresif, merusak, mengganggu
  • sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.

3 Alasan Pentingnya Keluarga Dalam Pendidikan Masa Kini

Di zaman ini, teknologi sedang berkembang pesat. Hal itu tentu saja memudahkan orang dalam melakukan apa saja yang mereka inginkan. Salah satunya yaitu pendidikan, hal ini karena pendidikan merupakan hak setiap orang untuk mendapatkannya. Dengan adanya teknologi maka pendidikan dapat diambil dari mana dan di mana saja. Namun hal itu dapat memberikan hal yang negatif, karena ilmu yang tersebar luas belum tentu benar dan sesuai. Oleh karena itu, peran keluarga terutama orang tua dalam dunia pendidikan masa kini sangat penting. Keluarga merupakan peran yang sangat penting karena keluarga merupakan tempat pertama di mana seseorang mulai mendapatkan pendidikan.

Pendidikan Masa Kini

Pendidikan masa kini sangan berbeda dengan pendidikan masa lalu. Pendidikan masa kini sering kali dikaitkan dengan teknologi dan juga inovasi-inovasi unik yang terus meningkat. Teknologi tersebut sangat membantu semua orang dalam mengakses pendidikan. Sehingga pendidikan dapat digapai oleh semua kalangan, meskipun tidak sedikit juga dari kalangan bawah yang belum menyentuh pendidikan. Namun dengan adanya teknologi dapat memudahkan pemerintah atau kalangan atas untuk membantu kalangan bawah mendapatkan pendidikan.

Dengan kemajuan di zaman ini juga, orang dapat dengan mudah mendapatkan pendidikan yang ia inginkan dengan menggunakan teknologi tersebut. Karena pendidikan sudah tersebar luas dan mudah untuk diaksesnya. Oleh karena mudahnya dalam mengakses ilmu dan membagikannya, maka ilmu yang didapatkan belum tentu benar dan sesuai dengan standar. Sehingga perlu peran keluarga terutama orang tua dalam memilih ilmu yang diambil.

Permasalahan Yang Sering Terjadi Pada Pendidikan Masa Kini

Perubahan zaman yang sangat cepat menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan baru dalam dunia pendidikan masa kini. Hal itu tentu saja perlu dipahami agar memudahkan dalam menemukan solusinya. Permasalahan yang sering terjadi yaitu perubahan dimensi sosial. Perubahan sosial merupakan perubahan yang tidak dapat ditolak. Perubahan ini terjadi lebih cepat dibanding bidang lainnya.

Hal ini juga disebabkan oleh adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dengan munculnya teknologi, maka memudahkan orang dalam menemukan inovasi-inovasi sosial yang baru. Namun perlu diketahui, bahwa inovasi yang diciptakan belum tentu berdampak positif bagi lingkungan sosial budaya dalam negara tersebut. Oleh karena itu perlu adanya peran keluarga terutama orang tua agar inovasi yang diciptakan tidak menyimpang dari aturan-aturan yang berlaku di lingkungan hidupnya. Alasan mengapa peran keluarga penting dalam pendidikan masa kini yaitu adalah sebagai berikut.

  • Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama

Seseorang yang lahir ke dunia mulai belajar dari lingkungan keluarganya. Sehingga keluarga merupakan tempat pertama di mana seorang anak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu, keluarga harus mencontohkan hal-hal yang baik kepada anak agar ia dapat mudah meniru apa yang diajarkan oleh keluarganya terutama orang tuanya. Dengan kata lain, keluarga merupakan landasan utama seorang anak dalam mendapatkan pendidikan sebelum anak tersebut masuk atau belajar di tempat pendidikan umum. Hal tersebut memberikan ilmu untuk anak agar ia mengetahui apa yang harus ia lakukan. Sehingga karakter anak tidak mudah terpengaruh oleh ilmu-ilmu buruk yang dibawa oleh teman-temannya maupun teknologi yang digunakannya.

  • Keluarga merupakan pendukung yang kuat

Keluarga merupakan pendukung bagi seorang anak untuk belajar, hal itu karena keluarga merupakan fasilitator utama bagi seorang anak. Dukungan keluarga dapat berbentuk apa pun. Keluarga terutama orang tua dapat menyediakan kebutuhan yang diperlukan oleh anak untuk belajar. Misalnya menyediakan teknologi agar si anak dapat menyesuaikan zaman yang serba menggunakan teknologi. Selain hal itu, keluarga juga dapat mendukung anak dalam hal motivasi mengenyam pendidikan. Sehingga anak tidak berpikir bahwa ia belajar dan mendapatkan pendidikan dengan usahanya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, peran keluarga memegang peran pendukung yang kuat bagi anak dalam menjalani pendidikan masa kini.

  • Keluarga merupakan pengawas

Keluarga terutama orang tua harus mengawasi bagaimana perkembangan anak dalam mengenyam pendidikan. Apabila anak mengalami kendala dalam mencapai prestasinya, maka peran keluarga adalah membantunya untuk mencarikan jalan keluar. Dan jika anak mengalami penurunan prestasi belajarnya, maka orang tua harus mencari tahu apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Mengapa Pendidikan Karakter itu Penting?

Melihat dari kejadian-kejadian yang kurang pantas terjadi di kalangan siswa hal tersebut membuat kita sadar bahwa pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting yang harus ditanam sejak dini. Pendidikan karakter dapat ditanam mulai dari lingkungan keluarga. Tentunya hal tersebut akan membuat anak menjadi terbiasa menjadi pribadi dengan karakter yang baik. Namun apabila pendidikan karakter yang diajarkan tanpa menggunakan landasan yang tepat, maka ilmu yang disampaikan tidak akan tersampaikan.

Definisi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter didapatkan tidak hanya dari sekolah, justru peran keluarga terutama orang tualah yang sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang nantinya. Karena seorang anak akan mencontoh karakter yang ada pada orang tuanya ketika orang tua tersebut memperlakukan anak sebagaimana adanya. Selain keluarga, pendidikan karakter didapatkan dari sekolah maupun lingkungan bermain atau bergaul seseorang.

Pendidikan merupakan suatu kegiatan atau usaha yang dapat membuat manusia menjadi pintar atau memahami suatu ilmu. Karakter merupakan sifat yang terdapat di dalam diri setiap individu, dan sifat tersebut berbeda dari individu satu dengan individu lainnya. Jadi pendidikan karakter memiliki definisi yang berupa suatu usaha atau kegiatan yang dapat membentuk sifat pada setiap. Sifat atau karakter yang dibentuk, merupakan karakter yang baik sehingga menjadikan individu memiliki pribadi yang baik dan bijak.

Fungsi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter memiliki fungsi yaitu untuk meningkatkan potensi dan membentuk perilaku seseorang, sehingga memiliki akhlak yang baik. Dalam fungsinya, nantinya individu akan memiliki sifat yang jujur, kreatif, bertanggung jawab, serta bijak dalam mengambil keputusan. Selain itu, fungsi pendidikan juga mengembangkan seseorang menjadi individu yang demokratis terhadap bangsanya.

Berdasarkan hal yang telah dijelaskan di atas, berikut adalah alasan mengapa pendidikan karakter itu penting.

  • Menjamin terbentuknya karakter yang baik

 

Pendidikan karakter sudah dibentuk sejak dini, bahkan pendidikan karakter dibentuk melalui peran keluarga. Hal ini tentunya akan membuat seseorang terbiasa dengan karakter yang baik yang berasal dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu, karakter akan terus terbawa apabila seseorang berada di lingkungan luar. Sehingga seseorang memiliki karakter yang baik dalam menjalani kehidupannya.

 

  • Mengembangkan pencapaian yang dituju

 

Setiap individu tentunya memiliki pencapaian atau mimpi-mimpi yang dituju. Dengan adanya pendidikan karakter, maka seseorang akan mengembangkan kemampuan dirinya melalui karakter yang dibentuknya untuk mencapai tujuan-tujuannya.

 

  • Menjamin seseorang akan menghargai orang lain

 

Pembentukan karakter melalui pendidikan yang sudah dilakukan sejak dini, menjamin seseorang akan memiliki sifat yang sopan dan santun serta mudah menghargai orang lain. Seseorang akan berbicara sopan terhadap orang yang lebih tua dari dirinya. Selain itu, seseorang juga tidak mudah menyepelekan setiap pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain.

 

  • Dapat memecahkan masalah dengan mudah

 

Seseorang akan dihadapkan oleh masalah-masalah seiring bertumbuhnya seseorang tersebut menjadi dewasa. Pendidikan karakter membentuk pribadi yang tangguh dan kuat. Sehingga apabila seseorang dihadapkan oleh masalah, maka ia akan mencari solusi untuk menyelesaikannya. Lain halnya apabila seseorang memiliki sifat yang penakut, maka orang tersebut mungkin saja lari dari masalah yang dihadapinya dan tidak bertanggung jawab.

 

  • Membentuk individu yang demokratis

 

Cara berpikir seseorang mulai terbentuk sejak pendidikan karakter ditanamkan. Seseorang akan menilai dirinya memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang lain. Apabila terdapat hal yang dirasa tidak baik pada diri orang lain, maka seseorang mulai berpikir tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengubah orang tersebut menjadi lebih baik serta menjaga dirinya agar terhindar dari kesalahan yang sama yang dilakukan oleh orang lain.

Peranan Guru Dan Tenaga Kependidikan Sebagai Agen Transformasi

Komponen penting di dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional adalah guru dengan kualitas, pengalaman, dan profesionalitas. Guru bukanlah hanya berperan sebagai pengajar semata. Lebih dari itu guru juga memiliki peran membimbing, mengarahkan, menilai, melatih, dan memberikan evaluasi para peserta didik. Anda bisa melihat informasinya pada info gtk. Sebagai guru yang berkualitas dan profesional tentu dituntut harus bisa menguasai segala materi yang diajarkan, mengendalikan situasi kelas, dan menghidupkan suasana belajar-mengajar. Jadi sebagai profesi guru merupakan fasilitator, inovator, inspirator, dan juga merangkap sebagai agen transformasi pembelajaran.

Mengetahui Ciri Dari Guru Yang Baik

Mungkin banyak yang masih belum mengerti mengenai apa ciri dari guru yang baik dan apa peran dari guru sebagai saran agen transformasi pembelajaran. Nah untuk menjawab itu semua, pertama-tama akan kami jelaskan terlebih dahulu kualifikasi dari ciri guru yang baik.

Memang sulit untuk menentukan apa saja kriteria guru yang baik. Namun walaupun seperti itu, kita bisa menetapkan secara umum mengenai ciri dari guru yang baik seperti berikut:

  • Guru dengan pemahaman lengkap terhadap seluruh bahan pembelajaran yang akan diberikan.
  • Guru dengan pemahaman yang baik terhadap murid.
  • Mampu memilih metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kemampuan anak didik.
  • Mampu menghubungkan dasar pembelajaran dengan kebutuhan para anak didik.
  • Mampu mendorong murid menjadi aktif saat menerima transfer ilmu.

Itulah beberapa kriteria dari guru yang baik untuk bisa Anda pahami. Nah, sekarang mari kita masuk pada pembahasan tentang guru sebagai agen transformasi. Baca juga informasi lengkapnya pada  info gtk.

Apa Maksud Dari Guru Sebagai Agen Transformasi

Dalam Standar Nasional Pendidikan, pasal 28, dijelaskan bahwa maksud dari tenaga kerja kependidikan merupakan agen transformasi pembelajaran atau learning agent. Peran dari agen transformasi pembelajaran dari tenaga kependidikan ada 4, yaitu fasilitator, pemacu, motivator, dan inspirator. Jadi ketika Anda ingin bisa memahami guru dan tenaga kependidikan sebagai agen transformasi pembelajaran, maka perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai masing-masing peran yang dimiliki.

Guru Sebagai Fasilitator

Peran dari guru atau tenaga pengajar sebagai fasilitator memiliki tugas untuk memberikan transfer ilmu kepada seluruh anak didik. Proses dari pembelajaran yang diberikan haruslah berada pada suasana menyenangkan, penuh semangat, sehingga mudah untuk diterima para murid.

Beberapa sikap yang perlu untuk dimiliki oleh guru sebagai fasilitator adalah seperti berikut:

  • Dapat menerima dan mendengar aspirasi atau perasaan yang diutarakan oleh murid.
  • Harus bersikap terbuka. Hindarkan diri dari sikap terlalu berlebih dalam mempertahankan keyakinan.
  • Menerima ide baru, inovasi, dan kreativitas dari para siswa didik baik yang mudah atau sulit sekali pun.

Guru Sebagai Pemacu

Untuk peran sebagai pemacu, guru dan pengajar kependidikan harus teliti dalam meningkatkan potensi dari tiap-tiap anak didik. Bukan sampai di situ saja, guru atau pengajar juga perlu untuk membantu mengembangkan potensi anak didik supaya bisa berada di jalan yang benar dan sesuai apa yang di cita-citakan. Tentunya guru harus bisa memahami jika setiap orang pasti memerlukan bantuan dari orang lain, tak terkecuali anak didiknya. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan memberikan pembelajaran yang mudah supaya peserta didik mampu mengembangkan potensi pribadi secara optimal. Baca juga keterangan lebih lengkap pada info gtk.

Guru Sebagai Motivator

Peran selanjutnya dari guru merupakan transformasi pembelajaran adalah sebagai motivator.  Motivasi ialah satu di antara banyak faktor penting untuk bisa meningkatkan kualitas dari pembelajaran. Hal ini bisa disematkan karena motivasi para anak didik bisa menerapkan langkah belajar dengan sungguh-sungguh ketika memiliki motivasi kuat. Karena itulah demi bisa meningkatkan mutu kualitas pembelajaran, tenaga kependidikan dan guru harus bisa membangkitkan motivasi pada seluruh anak didiknya.

Beberapa langkah yang bisa diterapkan ketika ingin bisa meningkatkan motivasi belajar antara lain adalah sebagai berikut:

  • Menciptakan sebuah suasana yang menyenangkan dalam proses belajar-mengajar.
  • Memberikan pujian terhadap para siswa yang berhasil. Tentunya pujian yang diberikan haruslah wajar dan sesuai porsi.
  • Memberikan penilaian yang sesuai dan positif.
  • Menjaga persaingan dari para siswa atau anal didik di dalam proses belajar.
  • Memberikan topik pembelajaran yang menarik. Kebanyakan dari peserta didik akan lebih menyukai topik belajar yang menarik.

Guru Sebagai Inspirator

Peran terakhir yang perlu untuk Anda ketahui adalah guru sebagai inspirator. Guru dan tenaga kependidikan tentu harus bisa memerankan diri sebagai pemberi inspirasi belajar untuk para peserta didik. Hal ini diperlukan supaya para peserta didik mampu terpancing untuk membangkitkan gagasan, ide-ide, dan pemikiran baru. Cara yang bisa diterapkan adalah dengan menciptakan dan menjaga lingkungan belajar untuk selalu aman, nyaman, dan tertib.

Itulah seluruh peran yang dimiliki oleh guru dan tenaga kependidikan sebagai agen transformasi pendidikan. Mengetahui lebih lengkap bisa dilakukan dengan langsung menuju situs info gtk.

error: Content is protected !!